7 Langkah Iblis Menyesatkan Manusia

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. 2:208)

Syaithan tidak pernah bergembira ketika melihat ada orang-orang yang bertaubat kepada Allah. Ia akan terus berusaha dengan segala daya dan upaya untuk menggelincirkan manusia agar kembali kepada kesesatan. Syaithan menggoda manusia melalui media hawa nafsu dan syahwat yang ada dalam diri manusia. Ketika seorang manusia dengan rahmat Allah, secara sempurna mampu mengendalikan hawa dan syahwatnya, maka syaithan kehilangan cara untuk menyesatkan manusia. Karena Allah berkata, bahwa Iblis tiada sanggup menyesatkan orang-orang yang mukhlas.

Cara syaithan menggelincirkan manusia ada beragam. Ada seseorang yang tidak pernah shalat. Ketika ia sadar bahwa ia harus mulai bertaubat dengan melaksanakan shalat, maka syaithan akan berusaha agar orang ini tidak melaksanakan shalat. Berbagai cara dilakukannya. Mulai dengan membisikan kemalasan, keasyikan, pengabaian dan lain sebagainya. Namun karena usaha yang keras, akhirnya Allah menolong. Orang ini menjadi mudah untuk melakukan shalat. Ia menjadi orang yang rajin shalat, bahkan selalu di Masjid. Saat ini syaithan tidak lagi menggelincirkan dengan meniupkan kemalasan, ia melihat lubang yang lebih terbuka di dalam individu tersebut, yaitu lubang riya. Syaithan membiarkannya dalam kerajiannya dalm shalat. Namun ia sekarang membisikkan dengan riya. “Lihat shalatmu paling bagus”. “Lihat orang-orang kagum padamu”. “Kamu adalah orang yang alim”. Ketika ia mengikutinya, tanpa sadar si manusia pun telah tergelincir kedalam lubang syaithan.

Imam al Ghazali dalam Kitab Minhajul Abidin mengatakan, bahwa syaithan menyesatkan manusia dengan 7 langkah, yaitu:

PERTAMA
Syaithan melarang manusia agar jangan taat kepada Allah. Orang-orang yang dipelihara Allah, akan menolak ajakan itu dan berkata: “Aku sangat butuh sekali kepada pahala dari Allah, karena itu aku harus membekali diriku di dunia ini untuk akhirat yang kekal abadi”.

KEDUA
Syaithan mengajak manusia untuk menunda taat. Syaithan mengatakan “Nanti saja masih ada waktu”, “Nanti saja kalau sudah tua”, dan sebagainya. Orang-orang yang terpelihara akan menolaknya dengan mengatakan: “Ajalku bukan pada tanganku. Jika aku mengundur amal hari ini untuk esok, siapa yang dapat memastikan bahwa aku masih hidup?”

KETIGA
Suatu waktu syaithan mendorong manusia untuk segera mengerjakan amal baik, sambil berkata: “Ayo cepatlah beramal, supaya banyak dan dapat memburu amal yang lainnya”. Orang-orang yang selamat tentu menolak dan berkata: “Amal yang sedikit tetapi sempurna adalah lebih baik daripada amal yang banyak tetapi tidak sempurna”.

KEEMPAT
Syaithan kemudian menyuruh manusia untuk mengerjakan amal baik dengan sempurna sebab apabila nanti tidak sempurna akan dicela oleh orang lain. Orang-orang yang terpelihara tentu menolaknya dan akan berkata: “Untuk saya, cukup dinilai oleh Allah saja dan tidak ada faedahnya beramal karena manusia”.

KELIMA
Setelah itu syaithan menancapkan perasaan dalam hati orang yang beramal dengan mengatakan: “Betapa tingginya derajatmu dapat beramal shalih dan betapa pula cerdikmu dan kesempurnaanmu”. Orang-orang yang shalih akan berkata: “Semua keagungan dan kesempurnaan itu kepunyaan Allah, bukan kekuatan atau kekuasaanku. Allahlah yang memberi taufik kepadaku untuk dapat mengerjakan amal yang Ia ridlai dan memberikan ganjaran yang besar dengan karunia-Nya. Jika sekiranya tanpa karunia Allah, maka apalah harganya amalku ini dibandingkan dengan banyak nikmat Allah kepadaku, disamping dosa yang banyak yang aku kerjakan”.

KEENAM
Setelah jalan kelima gagal, maka syaithan mengajukan jalan keenam. Jalan ini lebih hebat dari yang disebut sebelumnya. Dan tidak akan dapat menyadarinya kecuali orang yang hidup pikirannya. Syaithan berkata dengan mendesuskan di hati manusia: “Bersungguh-sungguhlah engkau beramal dengan sirr (rahasia), jangan diketahui oleh manusia sebab Allah jualah yang akan mendzahirkan amalmu terhadap manusia, dan akan mengatakan bahwa engkau adalah hamba Allah yang Ikhlas”. Syaithan mencampurbaurkan terhadap setiap orang yang beramal dengan tipu dayanya yang halus sekali. Dengan ucapannya itu syaithan bermaksud untuk memasukkan sebagian dari penyakit riya. Orang-orang yang dipelihara oleh Allah menolak ajakan syaithan ini dengan mengatakan : “Hai mal’un (yang dilaknat) tiada henti-hentinya engkau menggodaku untuk merusak amalku dengan rupa-rupa jalan. Dan sekarang engkau berpura-pura seolah-olah akan memperbaiki amalku, padahal maksudmu adalah untuk merusaknya. Aku ini adalah hamba Allah dan Allah yang menjadikan aku. Kalau Allah berkehendak mendzahirkan amalku atau menyembunyikannya, kemudian menjadikan aku mulia atau hina, itu adalah urusan Allah. Aku tidak gelisah apakah amalku itu diperlihatkan oleh Allah kepada manusia atau tidak, karena itu bukanlah urusanku”.

KETUJUH
Setelah gagal dengan jalan keenam, maka ia menggoda lagi dengan jalan ketujuh dengan mengatakan: “Hai manusia tidak perlu engkau menyusahkan dirimu untuk beramal ibadah, karena sejak zaman Azali Allah telah menentukan manusia. Apabila engkau ditentukan sebagai orang yang bahagia, maka tidak akan menjadi mudharat apa-apa kalau engkau meninggalkannya, dan engkau tetap akan menjadi orang yang bahagia. Sebaliknya apabila engkau telah ditentukan sebagai orang yang celaka, maka tiada gunanya engkau beramal, karena engkau tetap akan celaka”.

Orang-orang yang dipelihara oleh Allah akan menolak godaan ini dengan mengatakan: “Aku ini seorang hamba yang mempunyai kewajiban menuruti perintah Tuhan. Tuhan Maha Mengetahui. Ia menetapkan sekehendakNya. Dan berbuat apa saja yang dikehendakiNya. Amalku tetap akan bermanfaat, walau bagaimanapun keadaanku. Jika aku dijadikan seorang yang berbahagia, maka aku tetap perlu beribadah untuk menambah pahala. Dan jika aku dijadikan orang yang celaka, aku tetap harus beramal ibadah, supaya tidak menjadi penyesalan. Jika sekiranya aku dimasukkan ke neraka padahal aku taat, maka aku lebih senang daripada aku dimasukkan neraka karena aku maksiat. Tetapi tidak akan demikian keadaannya karena janji Allah pasti ditepati dan firman-Nya pasti benar. Allah telah menjanjikan kepada siapa yang beramal taat kepada-Nya akan diberi ganjaran. Siapa-siapa yang meninggalkan dunia dalam keadaan beriman dan taat kepada Allah tidak akan dimasukkan ke neraka dan pasti dimasukkan ke Surga. Jadi masuknya seseorang ke Surga bukanlah bukanlah karena kekuatan amalnya, tetapi karena janji Allah semata yang pasti ditepati dan suci”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s